Malam pertama, Dira makan sendirian di warung pinggir sawah. Lampu temaram, musik gamelan mengalir pelan dari speaker kecil di sudut ruangan.
Di meja sebelahnya, seorang pria sedang membaca buku tebal. Tidak ada ponsel di atas meja. Tidak ada earphone. Hanya buku, satu gelas teh, dan ekspresi yang sangat... damai.
Dira merasa iri.
"Bukunya bagus?" ia bertanya, tanpa benar-benar tahu kenapa.
Pria itu mendongak. Matanya berbinar. "Sangat. Kamu suka Pramoedya?"
Dira menggeleng. "Belum pernah baca."
"Mulai dari yang ini." Ia mendorong buku itu ke sisi meja. "Aku sudah tiga kali baca."