Mereka akhirnya masuk ke kedai kopi itu bersama. Namanya Rivan — nama yang Lara tahu bukan karena ia bertanya, tapi karena barista di sana memanggilnya dengan akrab.
"Kamu sering ke sini?" tanya Lara sambil meniup cappuccino-nya.
"Hampir setiap hari." Rivan menatap gelasnya. "Tempat ini punya Wi-Fi yang stabil dan barista yang tidak cerewet."
"Itu alasan yang sangat... pragmatis."
"Kamu punya alasan yang lebih romantis untuk memilih kedai kopi?"
Lara berpikir sebentar. "Aku suka tempat yang ramai tapi bisa tetap merasa sendiri."
Rivan mendongak, menatapnya dengan serius. "Itu sebenarnya agak menyedihkan."
"Atau realistis."
Mereka beradu pandang. Di luar, hujan akhirnya mulai mereda. Tapi keduanya tidak bergerak dari kursi masing-masing.