"Kamu menikah," kata Arkan-1, masih terpana.
"Kamu tidak." Arkan-7 menuangkan dua cangkir kopi. "Itulah perbedaan terbesar kita. Dua puluh tiga titik keputusan yang berbeda. Tapi yang paling krusial: kamu menolak Nayla. Aku tidak."
Arkan-1 terdiam. Nayla. Nama itu seperti duri kecil yang selalu ada di sudut pikirannya — perempuan yang ia lepaskan demi ambisi riset yang... membawanya ke sini.
"Apakah itu pilihan yang benar?" tanya Arkan-1 akhirnya.
Arkan-7 menatapnya lama. "Aku tidak tahu pilihan mana yang benar. Aku hanya tahu pilihan mana yang membuatku tidak kesepian."